Jangan Lupa Add Bolog Q



KATA PENGANTAR


Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayahnyalah sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. dan tak lupa pula salam dan salawat kepada Nabi Muhammad saw.
Dalam penulisan makalah kali ini, saya akan membahas tentang ”Busung Laparyang tentunya terkait dengan masalah gizi dan kemiskinan. Saya berharap dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan juga bisa menjadi ilmu terapan dalam menghadapi realita hidup.
Penulis  menyadari bahwa tak ada manusia yang diciptakan sempurna, namun dalam hal ini para manusia sendirilah yang menciptakan kesempurnaan itu. seperti makalah ini yang masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi bahasa, pengolahan, maupun dalam penyusunan. Untuk itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang nantinya tentu akan memberi pengaruh yang sangat besar kedepannya.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya tak lupa saya hantarkan kepada  seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini terutama dari dosen dan rekan-rekan mahasiswa lainnya.


Gowa, 12 Juni 2013


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Keadaan gizi dan kesehatan gizi dan kesehatan masyarakat tergantung padatingkat konsumsi,Dewasa ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi), kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan, dan adanya daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai dengan minimnya pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Dengan demikian, sebaiknya masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna mencegah terjadinya gizi salah (malnutrisi) dan risiko untuk menjadi kurang gizi.
Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. Mulai dari bayi dilahirkan, masalahnya sudah mulai muncul, yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2.5 Kg). Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa sampai dengan usia lanjut.
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.
Suatu penyakit timbul karena tidak seimbangnya berbagai faktor, baik dari sumber penyakit (agens), pejamu (host) dan lingkungan (environment). Hal itu disebut juga dengan istilah penyebab majemuk (multiple causation of diseases) sebagai lawan dari peiiyebab tunggal (single causation).
B.   Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud Gizi dan Gizi Kesehatan Masyarakat
2.    Apa yang dimaksud dengan busung lapar ?
3.    Bagaimana Hubungan antara Busung Lapar dan Kemiskinan yang terjadi di Indonesia
4.    Apa saja jenis Busung Lapar ?
5.    Bagaimana tanda-tanda busung lapar ?
6.    Apa saja dampak yang ditimbulkan dari busung lapar ?
7.    Apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah busung lapar ?
8.    bagaimana cara menanggulangi (solusi) kasus busung lapar yang terjadi ?
C.   Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah:
1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud Gizi dan Gizi Kesehatan Masyarakat
2.    Untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan busung lapar itu
3.    Untuk mengetahui hubungan antara penyakit busung lapar dengan kemiskinan yang terjadi di Indonesia
4.    Untuk mengetahui jenis busung lapar
5.    Untuk mengetahui tanda-tanda dari busung lapar
6.    Untuk mengetahui dampak yang terjadi akibat busung lapar
7.    Untuk mengetahui pencegahan dari busung lapar
8.    Mengambil solusi yang tepat untuk menanggulagi kasus busung lapar yang terjadi

BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Gizi dan Gizi Kesehatan Masyarakat
1.    Pengertian Gizi 
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Tak satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat.
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makananyaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari.
Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang.
Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.
2.    Gizi dalam kesehatan masyarakat
      Terkait erat dengan ”gisi kesehatan masyarakat” adalah ”kesehatan gizi masyarakat,” yang mengacu pada cabang populasi terfokus kesehatan masyarakat yang memantau diet, status gizi dan kesehatan, dan program pangan dan gizi, dan memberikan peran kepemimpinan dalam menerapkan publik kesehatan prinsip-prinsip untuk kegiatan yang mengarah pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pengembangan kebijakan dan perubahan lingkungan.
Definisi Gizi kesehatan masyarakat merupakan penyulingan kompetensi untuk gizi kesehatan masyarakat yang disarankan oleh para pemimpin nasional dan internasional dilapangan.
Gizi istilah dalam kesehatan masyarakat mengacu pada gizi sebagai komponen dari cabang kesehatan masyarakat , ”gizi dan kesehatan masyarakat” berkonotasi koeksistensi gizi dan kesehatan masyarakat, dan gizi masyarakat mengacu pada cabang kesehatan masyarakat yang berfokus pada promosi kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat dengan menyediakan layanan berkualitas dan program-program berbasis masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan yang unik dari komunitas yang berbeda dan populasi. Gizi masyarakat meliputi program promosi kesehatan, inisiatif kebijakan dan legislatif, pencegahan primer dan sekunder, dan kesehatan di seluruh rentang hidup
B.   Pengertian Busung Lapar
Busung Lapar atau gizi buruk adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam asupan makanan sehari-hari hingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Ada beberapa cara untuk mengetahui seorang anak terkena busung lapar (gizi buruk) yaitu :
Pertama, dengan cara menimbang berat badan secara teratur setiap bulan . Bila perbandingan berat badan dengan umurnya dibawah 60% standar WHO-NCHS, maka dapat dikatakan anak tersebut terkena busung lapar (Gizi Buruk).
Kedua, dengan mengukur tinggi badan dan LIngkar Lengan Atas (LILA)  bila tidak sesuai dengan standar anak yang normal waspadai akan terjadi gizi buruk.
Kalau kita bicara tentang busung lapar, pasti tidak dapat dipisahkan dengan kemiskinan. Namun, kemiskinan bukan satu-satunya faktor penyebab terjadinya busung lapar ini. Banyak faktor yang mempengaruhi busung lapar dan faktor tersebut saling berkaitan.
Secara langsung, pertama, anak kurang mendapat asupan giziseimbang dalam waktu cukup lama, dan kedua, anak menderita penyakit infeksi. Anak yang sakit, asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat penyakit infeksi.
Secara tidak langsung penyebab terjadinya gizi buruk yaitu tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga, pola asuh kurang memadai dan sanitasi/ kesehatan lingkungan kurang baik serta akses pelayanan kesehatan terbatas.
Akar masalah tersebut berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kemiskinan keluarga. Berdasarkan hasil survei, faktor risiko penyebab gizi buruk di NTT adalah faktor sosial budayadan ketidaktahuan, rendahnya daya beli dan masih tingginya penyakit infeksi, dan diperberat dengan adanya terjadinya kekeringan yang panjang.
Tindak korupsi juga menjadi salah satu faktor penyebab. Provinsi NusaTengara Timur terkesan sepi dari kasus korupsi. Hal ini dikarenakan tidak ada koruptor yang ditangkap. Kalaupun ada yang sampai ditangkap, mereka tidak diproses ke pengadilan. Jaksa dan polisi hanya memberi kasus awal, lalu diam sampai mereka pindah tugas atau pensiun
C.   Hubungan antara Busung Lapar dan Kemiskinan yang terjadi di Indonesia
Kemiskinan merupakan penyebab utama terjadinya busung lapar. Kemiskinan itu sendiri muncul karena terdapat faktor-faktor lain yang secara tidak langsung menyebabkan atau memicu kemiskinan, yaitu :
1.    lapangan kerja terbatas,
2.    merosotnya daya beli yang disebabkan oleh naiknya harga bahan pokok,
3.    kegagalan panen karena faktor alam dan penggusuran yang terjadi di perkotaan, serta
4.    melemahnya jaring pengaman sosial sehingga masalah busung lapar ini tidak terdeteksi sejak dini. Hal ini masih ditambah dengan rendahnya kepedulian dan rendahnya kinerja aparat yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.
Terjadinya busung lapar bukanlah sesuatu yang mendadak seperti gempa bumi atau tsunami, tetapi melalui proses dan tahapan, yakni dari kondisi kurang gizi, gizi buruk, baru kemudian memasuki tahap busung lapar yang memerlukan waktu kurang-lebih 1 sampai 5 tahun. Semestinya hal itu dapat dideteksi sebelumnya, sehingga secara dini dapat segera diatasi . Pertanyannya: mengapa kondisi itu terlambat diketahui sehingga pencegahan tidak mungkin dilakukan karena sudah sampai pada tahapan yang paling buruk? Padahal sebelum munculnya masalah busung lapar ini, UNDP telah melaporkan bahwa Indonesia termasuk negara yang mempunyai Human Development Index (HDI) atau kualitas hidup manusia rendah, yakni menempati rangking ke 117 diantara l70 negara didunia yang jadi sasaran surveynya . Seharusnya laporan semacam ini bisa menjadi peringatan awal adanya ketidakberesan bagi pemerintah dan para penguasa tentang adanya masalah yang terjadi dalam masyarakat yang mungkin saja tidak secara langsung berhubungan dengan suatu “bencana” tertentu tetapi ditengarai mengarah ke suatu hal tertentu. Tetapi nyatanya tanggapan itu baru ada ketika busung lapar sudah terjadi, dan itu berarti sudah terlambat. Penanganan busung lapar sendiripun ditanggapi dan ditangani seperti layaknya ‘bencana alam’ dan tidak diletakkan dalam konteks jangka panjang. Bahkan ada pemimpin daerah yang menyatakan bahwa itu bukanlah busung lapar, melainkan pola makan yang salah . Disinilah masalah semakin kompleks karena busung lapar hanyalah merupakan salah satu puncak gunung es yang disebabkan oleh kemiskinan yang merupakan akibat dari arah kebijakan yang salah.
Kemiskinan bisa dimengerti sebagai suatu keadaan yang berada dibawah satu garis kemiskinan tertentu atau suatu keadaan di mana seseorang kekurangan bahan-bahan mendasar untuk keperluan hidup seperti makanan, pakaian, dan kediaman (sandang, pangan, dan papan) . Secara lebih spesifik, PBB memakai ukuran yang ditetapkan oleh Bank Dunia, yaitu penghasilan kurang dari US$ 1 sebagai kategori kemiskinan ekstrem, antara US$ 1 hingga US$ 2 sebagai kategori miskin moderat, dan kemiskinan relatif yang berarti tingkat penghasilan rumah tangga di bawah proporsi tertentu dari rata-rata nasional . Sedikit berbeda, kemiskinan juga dapat digolongkan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untak memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya .
Kajian-kajian mengenai latar belakang kemiskinan itu secara ringkas dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.    kondisi miskin yang dialami suatu komunitas masyarakat disebabkan oleh kebijakan negara, atau biasa disebut kemiskinan struktural,
2.    kemiskinan akibat dari penghayatan nilai-nilai kultural yang ikut berperan dalam perilaku kehidupan masyarakat.
3.    kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi alam atau bencana alam yang tidak memungkinkan masyarakat yang tinggal dan hidup di satu wilayah untuk memperoleh kehidupan yang layak .
Korban busung lapar dan relevansi konsep-konsep kekuasaan, politik, dan negara  Secara sosiologis korban terjadinya busung lapar ialah anak-anak, karena akibat langsung busung lapar itu mereka dihadapkan pada 2 pilihan yang sama-sama pahit dan tidak bisa ditolak, yakni kehilangan nyawa atau menjadi bodoh (hidup dengan kepala kosong) . Dengan kata lain, mereka akan menjadi salah satu generasi yang hilang (lost generation) tanpa bisa berbuat apa-apa, tanpa mampu mengubah pilihan yang menyangkut hidupnya. Anak-anak ini merupakan bagian dari rakyat yang termarjinalkan dari hak-hak mereka, bahkan yang paling dasar sekalipun, yakni hak untuk memperoleh penghidupan. Baik secara langsung maupun tidak langsung mereka merupakan korban dari kebijakan penguasa yang tidak memihak rakyat kecil dan miskin. Dalam hal ini, busung lapar merupakan contoh ekstrem dari kemiskinan karena yang terjadi bukan saja penderitaan secara fisik saja, tetapi penderitaan batin karena hak-haknya yang terabaikan.
Dari perspektif pemenuhan hak-hak dasar yang dituntutkan dari negara seperti yang tertuang dalam UUD 1945, yang terjadi di NTT, ataupun juga daerah-daerah lainnya, sesungguhnya yang terjadi adalah penelantaran, suatu wujud pelanggaran yang semestinya mendorong pemerintah sebagai pemegang kekuasaan untuk mengubah arah kebijakan publik. Hal ini sejalan dengan pandangan Karl Marx yang mengatakan bahwa negara secara hakiki merupakan negara kelas, di mana negara dikuasai secara langsung atau tidak langsung oleh kelas yang menguasai bidang ekonomi yang juga merupakan kelas penguasa. Maka, menurut Marx, negara merupakan alat dalam tangan kelas atas untuk mengamankan kekuasaan mereka. Negara pertama-tama tidak bertindak demi kepentingan umum, melainkan demi kepentingan kelas atas. Jadi negara tidak netral, melainkan selalu berpihak . Melalui perspektif ini, penelantaran atau pemarjinalan rakyat kecil dan hak-haknya merupakan wujud dari kebijakan elit penguasa yang hanya berorientasi pada kepentingan kelas atas. Dengan kata lain, rakyat kecil, dan terutama korban busung lapar, merupakan korban dari elit penguasa yang juga merupakan kelas atas itu sendiri. Negara dapat saja bertindak demi kepentingan seluruh masyarakat, misalnya dengan membangun sarana transportasi, menyelengarakan persekolahan umum, dan melindungi masyarakat dari tindak kriminal. Tetapi tindakan ini pun demi kepentingan kelas atas, karena kelas atas pun tidak dapat mempertahankan diri, apabila kehidupan masyarakat pada umumnya tidak berjalan. Kalau sekali-sekali negara mengadakan perbaikan-perbaikan sosial, hal itu adalah untuk menenangkan rakyat dan untuk membelokkan perhatiannya dari dari tuntutan-tuntutan perubahan yang lebih fundamental. Dengan rumusan lain, negara pura-pura bertindak atas nama kesejahteraan rakyat, tetapi sebenarnya itu hanya siasat untuk mengelabuhi kelas pekerja
Maka, bila dikaitkan dengan kajian mengenai latar belakang kemiskinan, kemiskinan sebagai penyebab busung lapar ini merupakan kondisi miskin yang dialami suatu komunitas masyarakat karena disebabkan oleh kebijakan negara, atau biasa disebut kemiskinan struktural. Rakyat menjadi korban dari kebijakan-kebijakan yang didengung-dengungkan demi kesejahteraan rakyat, tetapi nyatanya malah membuat rakyat makin sengsara. Lihat saja kebijakan untuk menaikkan bahan bakar minyak di mana pemerintah mengatakan bahwa subsidi yang dikeluarkan negara selama ini hanya dinikmati oleh orang-orang kaya saja sehingga langkah yang ditempuh adalah mengganti pola subsidi harga menjadi subsidi langsung. Tetapi nyatanya yang menjadi korban malah rakyat kecil karena dengan kenaikan BBM Daya beli mereka menjadi semakin merosot karena otomatis harga bahan-bahan kebutuhan pokok ikut naik. Di samping itu, penderitaan itu semakin bertambah ketika kenaikan sudah terjadi tetapi dana kompensasi belum mereka terima, atau ketika salah seorang anggota keluarga mereka sakit mereka tidak mampu untuk berobat karena itu di luar kemampuan mereka. Maka pernyataan bahwa negara merupakan representasi rakyat, kepentingan publik, dan kesatuan nasional hanyalah merupakan mitos, seperti yang diungkapkan oleh Nicos Poulantzas . Negara bukanlah representasi rakyat karena tidak mewakili kepentingan publik, melainkan representasi satu kelompok saja, yakni kelompok kelas atas. Bahkan secara radikal, dalam perspektif Karl Marx, negara termasuk lawan orang kecil, karena negara adalah justru wakil kelas-kelas yang menghisap tenaga orang kecil .
Dalam konteks busung lapar di NTT, kondisi alam yang kering dan tandus yang menyebabkan gagal panen merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya rawan pangan. Meski demikian, kondisi alam yang kering bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya kemiskinan hingga busung lapar pun bisa terjadi. Menurut penelitian The Institute for Ecosoc Rights, Jakarta (2006-2007) tentang fenomena busung lapar dan gizi buruk di Nusa Tenggara Timur (NTT), banyak keluarga-keluarga miskin di provinsi ini mampu memelihara anak-anaknya tetap sehat. Dengan kata lain, busung lapar pertama-tama memang karena miskin, tetapi miskin tidak harus busung lapar . Di sini, busung lapar memiliki keterkaitan dengan masalah ‘mentalitas’. Dengan penanganan yang semata-mata hanya diletakkan dalam konteks jangka pendek seperti ‘bencana alam’ maka segala bantuan yang diberikan, baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga kemanusiaan, tidak akan memecahkan persoalan yang ada karena hanya berfungsi sementara. Karena hal ini terjadi berulangkali, maka masyarakat pun menjadi terbiasa untuk menunggu datangnya bantuan tanpa adanya usaha untuk kreatif atau inisiatif untuk memecahkan masalahnya sendiri dengan kearifan lokal yang dimiliki. Dengan kata lain, masyarakat menjadi lumpuh . Sekali lagi, hal ini berkaitan dengan arah kebijakan pemerintah.
D.   Jenis Busung Lapar (Gizi Buruk)
Ada 3 jenis busung lapar (gizi buruk) yang sering ditemui dan sangat berbahaya yaitu :
1.    Kwashiorkor
Kwashiorkor (dalam bahasa Afrika berarti anak yang ditolak) adalah kelainan akibat kekurangan protein akut. Ditandai dengan kelambatan pertumbuhan, perubahan warna kulit dan pigmentasi rambut, buncit, anemia dan peradangan pada kulit. Penderita biasanya mengalami perubahan warna kulit yang menggelap dan menebal di beberapa tempat, seperti tungkai dan punggung. Sering pula disertai pengelupasan kulit dan meninggalkan bekas berwarna merah muda dengan permukaan yang kasar. Kwashiorkor pertama kali ditemukan di Afrika.
2.    Marasmus  
Marasmus berasal dari kata marasmos (bahasa jerman) yang berarti sekarat. Mal nutrisi jenis ini biasanya biasanya berupa kelambatan pertumbuhan, hilangnya lemak di bawah kulit, mengecilnya otot, menurunnya selera makan dan keterbelakangan mental.
3.    Marasmic-kwashiorkor
Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klnik Kwashiorkor dan Marasmus, disertai edema yang tidak mencolok
E.   Tanda-Tanda Busung Lapar (Gizi Buruk)
Tanda-tanda busung lapar (Gizi Buruk) berbeda-beda menurut jenisnya.
Untuk jenis Kwashiorkor tanda-tanda yang terjadi adalah sebagai berikut:
1.    Bengkak  pada seluruh tubuh terutama pada punggung kaki dan bila ditekan akan meninggalkan bekas seperti lubang
2.    Otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus sehingga ukuran LILA-nya kurang dari 14 cm
3.    Timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
4.    Tidak nafsu makan
5.    Rambutnya menipis berwarna merah seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit
6.    Wajah anak membulat dan sembab (moon face)
7.    Cengeng/rewel dan apatis
8.    Sering disertai infeksi, anemia dan diare
Sedangkan untuk jenis Maramus tanda-tandanya yaitu sebagai berikut :
1.    Anak sangat kurus tampak tulang terbungkus kulit.
2.    Tulang rusuk menonjol
3.    Wajahnya seperti orang tua (monkey face)
4.    Kulit keriput (jaringan lemak sangat sedikit sampai tidak ada )
5.    Cengeng/rewel
6.    Perut cekung sering disertai diare kronik (terus menerus) atau susah buang air kecil
Tanda-tanda Marasmic – Kwashiorkor adalah :
1.    Campuran dari beberapa tanda tanda Kwashiorkor dan maramus disertai pembengkakan yang tidak menyolok.
F.    Dampak Busung Lapar (Gizi Buruk)
Dampak dari gizi buruk (busung lapar) pada anak bukan hanya tubuh yang kurus tetapi lebih dari itu. Gizi buruk dapat mengakibatkan menurunnya tingkat kecerdasan anak, rabun senja dan penderita gizi buruk lebih rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi.
Bila ditemukan anak dengan gizi buruk harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut.
G.   Pencegahan Busung Lapar (Gizi Buruk)
Busung Lapar (Gizi buruk) dapat dicegah dengan memberikan makanan yang bergizi pada anak berupa sayur mayur, buah-buahan, makanan yang mengandung karbohidrat (seperti nasi, kentang, jagung), makanan yang mengandung protein (telur, ikan ,daging) dll, dan berikanlah ASI bagi anak usia 0 – 2 tahun.
Masa depan bangsa Indonesia tergantung pada keadaan anak bangsa saat ini, jika anak-anak Indonesia tidak terpenuhi gizi seimbangnya tak terbayangkan masa depan bangsa ini.
Busung lapar adalah sebuah fenomena penyakit di Indonesia yang diakibatkan kekurangan protein kronis pada anak yang sering disebabkan beberapa hal antara lain anak tidak cukup mendapat makanan bergizi, anak tidak mendapat asupan gizi yang memadai, atau anak mungkin menderita infeksi penyakit. “Busung lapar disebabkan cara bersama atau salah satu dari simptoma Marasmus dan Kwashiorkor
Busung lapar tidak hanya terjadi di masa penjajahan. Namun, anak-anak Indonesia justru menderita penyakit yang identik dengan kemiskinan ini setelah 60 tahun lebih merdeka. Ironisnya, pemerintah malah menganggap kasus ini adalah sebuah kecelakaan belaka. Seolah-olah penyakit ini terjadi dalam waktu cepat dan mendadak. Padahal busung lapar bukanlah penyakit kilat, tetapi terjadi secara perlahan dan dalam proses yang berkelanjutan.
Secara nasional, kasus busung lapar yang menyerang anak-anak khususnya balita di Indonesia mencapai angka delapan persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah anak usia 0-4 tahun mencapai 20,87 juta pada tahun 2005. Artinya, jumlah balita yang menderita busung lapar saat ini sekitar 1,67 juta jiwa. Fakta ini seperti noda hitam di tengah negara yang dikatakan gemah ripah loh jinawi, sawahe jebar-jebar, parine lemu-lemu.
Di NTT, data Dinas Kesehatan setempat menunjukkan dari 512.407 balita per Juni 2008, sejumlah 84.887 anak mengalami masalah gizi. Rinciannya, gizi kurang sebanyak 72.085 anak, gizi buruk sebanyak 12.680, busung lapar sebanyak 112, dan meninggal dunia sebanyak 25 anak.
Padahal, anak yang kurang gizi akan menurun daya tahan tubuhnya,sehingga mudah terkena penyakit infeksi, selanjutnya anak yang menderita penyakit infeksi akan mengalami gangguan nafsu makan dan penyerapan zat-zat gizi sehingga menyebabkan kurang gizi. Anak yang sering terkena infeksi dan gizi kurang akan mengalami ganggguan tumbuh kembang yang akan mempengaruhi tingkat kesehatan, kecerdasan dan produktivitas di masa dewasa. Sebagaimana pernyataan berikut ini.
”Seseorang yang kurang makan (undernourished) adalah individu yang makanannya defisien akan kalori. Ketika jumlah kalori sangat berkurang dalam jangka waktu yang lama, tubuh mulai merombak proteinnya untuk menjadi bahan bakar, otot mulai mengecil, dan otak dapat menjadi defisien akan protein. Jika seseorang yang kurang makanmasih bertahan hidup, beberapa kerusakan dalam tubuhnya kemungkinantidak dapat dipulihkan.”
Tetangga Nusa Tenggara Timur, yaitu Nusa Tenggara Barat juga tak luput dari masalah ini. Setiap tahun, sekitar 1500 balita tertimpa busung laparpadahal provinsi yang terkenal dengan semboyan “Bumi Gogo Rancah” ini merupakan lumbung padi.
Pemerintah berkewajiban untuk nenuntaskan masalah ini hingga tuntas dan melakukan langkah-langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak terulang lagi dikemudian hari.
Adapun langkah-langkah yang mungkin direalisasikan adalah sebagai berikut:
1.    Membentuk suatu tim yang bertanggung jawab dalam keseluruhan proses pencegahan dan penanggulangan busunglapar.
2.    Pemberdayaan keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi,yaitu :
a.    Menimbang berat badan secara teratur.
b.    Makan beraneka ragam setiap hari.
c.    Hanya memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia enam bulan, memberikan  MPASI setelah enam bulan, dan menyusui diteruskan sampai usia duatahun.
d.    Menggunakan garam beryodium.
e.    Memberikan suplemen gizi kepada anggota keluargayang membutuhkan.
3.    Puskesmas di barisan depan harus melakukan penyuluhan gizidan kesehatan lewat Posyandu, tokoh-tokoh masyarakat,perkumpulan keagamaan, dan organisasi-organisasi potensiallainnya.
4.    Memberikan bantuan beras dan memberikan makananpendamping ASI serta makanan tambahan kaya protein.
5.    Membangun instalasi-instalasi penampung air sebagaicadangan air saat musim kering.
6.    Melakukan audit terhadap pejabat dan departemen-departemenkrusial terutama yang berhubungan langsung dengankesejahteraan rakyat.
7.    Mengucurkan dana khusus untuk perbaikan gizi masyarakat.
H.   Solusi Busung Lapar (Gizi Buruk)
Dalam kerangka pikir teoritis, penulis setuju dengan pemikiran Karl Marx bahwa jalan satu-satunya adalah revolusi oleh kelas bawah sehingga tercipta masyarakat komunis. Tetapi, pandangan ini merupakan pandangan utopis yang tidak pernah terjadi. Maka, tetap dalam kerangka yang sama, penulis sependapat dengan pemikiran Antonio Gramsci untuk menerapkan salah satu pandangan strategi politiknya untuk mengubah hegemoni yang didominasi oleh negara, yakni perang posisi (war of position) di mana harus muncul kaum intelektual dari kelas-kelas tereksploitasi untuk membentuk pemikiran-pemikiran, di samping aliansi kelas bawah harus tetap terjadi untuk melawan kemampuan represif yang dimiliki negara .
Dalam kerangka praktis, dengan melihat kenyataan dan berdasarkan analisa yang telah dijabarkan, yang harus dilakukan ialah mengubah arah kebijakan publik agar segala kebijakannya pertama-tama adalah kepentingan rakyat/umum (public oriented). Pemerintah juga harus mengubah arah kebijakannya dari yang sekadar emergensi dengan pendekatan jangka pendek menjadi pendekatan jangka panjang serta mengambil kebijakan publik yang memberikan hak-hak masyarakat atas pembangunan. Hal ini bisa dilakukan dengan memusatkan perhatian untuk membuka lapangan kerja dan usaha pemberdayaan masyarakat miskin, misalnya dengan pelatihan atau program padat karya. Lalu pemerintah hendaknya mengaktifkan pelayanan kesehatan yang bisa menjangkau rakyat kecil, seperti puskesmas dan posyandu dengan program-program pemberian makanan tambahan, di samping pemberdayaan para ibu/perempuan untuk ikut memantau kejadian-kejadian atau fenomena-fenomena yang berkaitan dengan kesehatan. Dalam menghadapi ganasnya alam yang tandus, pemerintah bisa menerapkan atau mengaplikasikan tekhnologi pertanian yang tepat yang sesuai dengan kondisi alam yang kering. Di samping itu, perlu juga mengembangkan komoditi yang merupakan kelebihan atau keunggulan dari daerah tersebut, misalnya mengembangkan peternakan dengan membagikan ‘pinjaman’ bibit hewan dengan bunga lunak. Selain itu, hendaknya dicari metode yang paling tepat dalam memberikan bantuan berupa subsidi, agar benar-benar sampai kepada rakyat, berguna bagi rakyat, dan tetap dalam kerangka jangka panjang sehingga tidak membuat rakyat menjadi tergantung. Dari sisi pemerintah sendiri, hendaknya prinsip good government benar-benar diperhatikan dan dilaksanakan. Korupsi harus diperangi dan birokrasi harus dibenahi.



BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
1.    Kekurangan gizi dapat terjadi dari tingkat ringan sampai tingkat berat dan terjadi secara perlahan-lahan dalam waktu cukup lama.
2.    Keadaan gizi atau status gizi masyarakat menggambarkan tingkat kesehatan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan asupan zat-zat gizi yang dikonsumsi seseorang.
3.    Busung Lapar atau gizi buruk adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam asupan makanan sehari-hari hingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).
4.    Terjadinya busung lapar bukanlah sesuatu yang mendadak seperti gempa bumi atau tsunami, tetapi melalui proses dan tahapan, yakni dari kondisi kurang gizi, gizi buruk, baru kemudian memasuki tahap busung lapar yang memerlukan waktu kurang-lebih 1 sampai 5 tahun.
5.    Ada 3 jenis busung lapar (gizi buruk) yang sering ditemui dan sangat berbahaya yaitu Kwashiorkor, Marasmus  dan Marasmic-kwashiorkor
6.    Sebagai solusinya yaitu upayah pencegahan sangat dibutuhkan dan kepedulian dari pemerinta serta masyarakatnya sendiri agar busung lapar dapat diminimalisir dan diatasi.
B.   Saran
1.    Memang pemerintah memegang peranan yang vital untuk mencegah terjadinya busung lapar karena itulah tugasnya sebagai penyelenggara negara. Meski demikian, peran aktif dari masyarakat tetaplah dibutuhkan. Bukan untuk mengubah keadaan, tetapi untuk melihat, memantau, setiap peristiwa yang terjadi di masyarakat dan apa yang dilakukan pemerintah. Jangan-jangan, karena terlalu sering mendengar peristiwa busung lapar maka hati kita menjadi tidak peka dan seolah-olah itu menjadi peristiwa yang ‘biasa’, atau pun bersikap apatis tanpa mau perduli dengan mengandaikan bahwa pemerintah pasti selalu bisa mengatasi
2.    Pemerintah, sebagai pelayan masyarakat, juga hendaknya melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Jangan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan yang dipercayakan oleh rakyat karena pemerintah adalah orang-orang yang dipilih oleh rakyat.


DAFTAR PUSTAKA
1.    Ambon. Busung Lapar dan Problem RPPK  .  http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Busung-Lapar -dan-Problem-RPPK/ diakses pada tanggal 17Januari 2009.
2.    Anonim. Mobil Mewah Pejabat dan Rakyat Busung Lapar Hidup Berdampingandi NTT .http://keadilansosial.wordpress.com/category/nusa-tenggara-timur.html/ diakses pada tanggal 18 Januari 2009.
3.    Campbell, N.A., J.B. Reece & L.G. Mitchell. 2004. Biology 5th Edition Jakarta: Erlangga.
4.    Depkes. 2005. Perkembangan Penanggulangan Gizi Buruk di Indonesia Tahun 2005. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
5.    Djalal, Dino Patti. 2008. Pasti Bisa! Seni Memimpin ala SBY  . Jakarta: Red &White Publishing.
6.    Malau, Lefidus. Selamatkan Anak-Anak dari Busung Lapar!!! .http://www.prp-indonesia.org/Selamatkan_Anak-anak_dari_Busung_Lapar.html/ diaksespada tanggal 17 Januari 2009.Multatuli. 1972.
7.    Max Havelaar  . Jakarta: Balai Pustaka.Inilah.Com. Ironi Busung Lapar  . http://www.inilah.com/berita/selamat-pagi-indonesia/2008/03/11/16668.../ diakses pada tanggal 17 Januari 2009.
8.    Pudjiatmoko. Tahun 2008 Indonesia Swasembada Beras .http://atanitokyo.blogspot.com/2008/12/tahun-2008-indonesia-swasembada-beras/ diakses pada tanggal 17 Januari 2009.
9.    Samsudin. Busung Lapar di Lumbung Padi .http://www.pertaniansehat.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id40.../  diakses pada tanggal 18 Januari 2009.Sassone, Robert L. 1994.
10. Handbook on Population. California: R.L. Sassone.Syamsuri, Istamar. 2004. Sains Biologi SMP . Jakarta: Erlangga
11. Wikipedia. Beras  .http://id.wikipedia.org/wiki/beras/ diakses pada tanggal 17Januari 2009.
12. Wikipedia. Busung Lapar  .http://id.wikipedia.org/wiki/Busung_Lapar/ diaksespada tanggal 17 Januari 2009.
13. Astuti, Tri Marhaeni.P. “Perempuan Perkasa di Tengah Hutan”, dalam Rahayu Surtiati Hidayat, Jurnal Studi Wanita, Vol. 1 No. 2 Desember 2002, Jakarta: Program Kajian Wanita, Program Pascasarjana, dan Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia.
14. Haralambos, Michael dan Martin Holborn. Sociology Themes and Perspectives (edisi keenam), London: HarperCollins Publisher limited, 2004.
15. Irianto, Sulistyowati. “Keadilan Sosial, Apakah Juga Ditujukan bagi Perempuan?”, dalam Al. Andang L. Binawan dan A. Prasetyantoko (ed.), Keadilan Sosial Upaya Mencari Makna Kesejahteraan Bersama di Indonesia
Juliawan, Hari. “Kemakmuran yang Tak Kunjung Datang”, dalam Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-54, Mei Juni 2005.
16. Magnis-Suseno, Franz. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.
 
Rheny. Template Design By: SkinCorner